A. PENGUKURAN
KINERJA ORGANISASI
James
B. Whittaker (1993) mengemukakan bahwa pengukuran kinerja merupakan suatu alat
manajemen yang di gunakan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan
akuntabilitas. Menurut Whitteker, elemen kunci dari sistem pengukuran kinerja
terdiri atas :
1. Perencanaan
penetapan tujuan
2. Pengembangan
ukuran yang relevan
3. Pelaporan
formal atas hasil
4. Penggunaan
informasi
Robert
Simons. Pengukuran kinerja merupakan suatu metode untuk menilai kemajuan yang
telah dicapai di bandingkan dengan tujuan yang telah di tetapkan. Pengukuran
kinerja tidak di maksudkan untuk berperan sebagai mekanisme untuk memebrikan
penghargaan/hukuman (reward/punisment), akan tetapi pengukuran kinerja berperan
sebagai alat komunikasi dan alat untuk memperbaiki kinerja organisasi.
Pengukuran
kinerja dalam organisasi bukanlah suatu aktivitas yang baru. Setiap organisasi
satuan kerja, dan unit pelaksana tugas, telah di progam untuk mengumpulkan
informasi berupa laporan berkala (triwulan/semester/tahunan)atas pelaksanaan
tugas dan fungsi.
B. MANFAAT
PENGUKURAN KINERJA
Dalam
kaitan ini berarti bahwa pengukuran kinerja penting peranan sebagai alat
manajemen untuk:
1. Memastikan
pemahaman para pelaksana akan ukuran yang di gunakan untuk pencapaian kinerja.
2. Memastikan
tercapainya rencana kinerja yang telah di sepakati.
3. Memonitor
dan mengevaluasi pelaksanaan kinerja dan membandingkanya dengan rencana kerja
serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kinerja.
4. Memberikan
penghargaan dan hukuman yang obyektif atas prestasi pelaksanaan yang telah di
ukur sesuai dengan sistem pengukuran kinerja yang telah di sepakati.
5. Menjadi
alat komunikasi antar bawahan dan pimpinan dalam rangka upaya memperbaiki kinerja organisasi.
6. Mengidentifikasi
apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi.
7. Membantu
memahami proses kegiatan instansi pemerintah.
8. Memastikan
bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara objektif.
9. Menunjukan
peningkatan yang perlu dilakukan.
10. Mengungkapkan
permasalahan yang terjadi.
C. TINGKATAN
PENGUKURAN KINERJA
Dalam
teori organisasi, struktur organisasi biasanya di bagi atas tingkata, yaitu:
1. Pimpinan
tingkat atas;
2. Pimpinan
tingkat menengah
3. Pimpinan
tingkat bawah
4. Pelaksana.
Level
atas dari struktur organisasi memerlukan kualitas informasi kinerja dengan
karakteristik sebagai berikut:
1. Informasi
kinerjaka sifatnya lebih teragregasi
2. Data/informasi
kinerja yang tidak hanya bersifat kuantitatif seperti input dan output; tetapi
juga bersifat kualitatif, misakna informasi mengenai outcome dan impact dari
progam instansi.
3. Informasi
kinerja yang bersifat real time.
4. Sedangkan
untuk pimpinan di tingkat bawah, kebutuhan informasi kinerja biasanya tidak
teragregasi, bersifat lebih kuantitatif dan dengan frekuensi lebih sering,
misal mingguan, harian, bahkan ke menit.
Terlepas dari besar,
jenis, sektor atau spesialisasinya,
setiap organisasi biasanya cenderung untuk tertarik pada pengukuran
kinerja dalam aspek berikut ini:
1. Aspek
finansial
2. Kepuasan
pelanggan
3. Operasi
bisnis internal
4. Kepuasan
pegawai
5. Kepuasan
komunitas dan shareholders/stakeholders
6. Waktu
D. INDIKATOR
KINERJA
Indokator
kinerja adalah ukuran kuantitatif dan/atau kualitatif yang menggambarkan
tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah di tetapkan. Oleh
karena itu, indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang akan dihitung akan di ukur serta di gunakan sebagai dasar
untuk menilai atau melihat tingkat kinerja baik dalam tahap perencanaan
(ex-ante), tahap pelaksanaan (on-going), maupun tahap setelah kegiatan selesai
dan berfungsi (ex-post)
E. STRATEGI
DAN METODE PENGUKURAN KINERJA
Ada
beberapa strategi kunci untuk menerapkan untuk menerapkan pengukuran kinerja
menunjukan bahwa inisiatf pengukuran kinerja yang yang tepat dalam rangka
mencapai tujuan yang di tetapkan dalam perencanaan strategis. Menurut lembaga
administrasi negara (2001: 13-19) di kemukakan strategi sebagai berikut:
1. Melibatkan
pemimpin pusat
2. Sense
of urgensi
3. Keselarasan
dengan arah strategis
4. Kerangka
dengan arah strategis
5. Komunikasi
6. Keterlibatan
karyawan
7. Perencanaan
strategis yang berorientasi pada pelanggan.
8. Mulai
melakukan pengkuran kinerja
9. Membuat dan memperbarui ukuran kinerja dan tujuan
10. Menciptakan
akuntabillitas kinerja
11. Pengumpulan
data dan pelaporan
12. Menganalisis
dan meninjau ulang data kinerja
13. Evaluasi
penggunaan informasi kinerja
14. Pelaporan
kinerja kepada para pelanggan dan stakeholder
15. Mengulangi
siklus
F. METODE
UCLA
Menurut
umar (2003:41-42) mengemukakan pendapat alkin (1969) membagi evaluasi ke dalam
metode UCLA ini. Ke dalam lima macam, yaitu:
1. Sistem
assesment
2. Progam
planning
3. Progam
implementation
4. Progam
improvement
5. Progam
certication
G. METODE
BALANCE-SCORECARD
Metode
ini di kemukakan oleh Robert S. Kaplan dari harvard bussines school dan David
C. Norton(2003: 167-182) mengukur kinerja perusahaan balance-scorecard istilah
balance berarti keseimbangan, sedangkan scorecard adalah kartu yang di pakai
untuk mencatat skor hasil kinerja seseorang atau kelompok. Balance scorecard
adalah metode untuk mengukur kinerja seseorang atau kelompok/organisasi dengan
mengggunkan kartu untuk mencatat skor hasil kinerja.






0 comments:
Post a Comment